Perdagangan Internasional adalah suatu proes tukar menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela yang dilakukan antara Negara yang satu dan Negara yang lain melalui ekspor-impor.
Motif perdagangan internasional
Penduduk sutau Negara melakukan perdagangan dengan penduduk Negara lain didorong adanya motif berdagang. Motif tersebut, yaitu adanya manfaat/keuntungan tambahan yang diperoleh dari perdagangan, yang dikenal dengan istilah “gains from trade”.
Fungsi perdagangan internasional
- mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu Negara (fungsi utama)
- memenuhi kebutuhan barang dan jasa yang tidak dapat ataau belum mampu diproduksi di dalam suatu Negara,
- menyebarluaskan barang dan jasa dari suaatu Negara ke Negara lain,
- meningkatkan pendapatn Negara,
- memperluas penggunaan teknologi antarnegara.
Timbulnya perdagangan internasional
perdagangan internasional dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi guna mencapai kemakmuran. Usaha dalam mencapai kemakmuran tidak terlepas dari pemenuhan kebutuhan (barang/jasa). Berdasarkan uraina tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa timbul perdagangan internasional terutama disebabkan oleh adanya peerbedaan sumber-sumber produksi, system distribusi, dan pola konsumsi suatu Negara.
Teori perdagangan internasional
- Teori Merkantilisme
Menurut teori ini sumber kemakmuran terletak apda banyak persediaan logam mulia (emas dan perak) seta dicapainya ekspor surplus atas nilai impor. Tindakan untuk merealisasi :
- dorong peningkatan ekspor (contoh:subsidi pada industri dalam negeri, pemberian premi ekspor dan melarang tenaga ahli bekerja di luar negeeri).
- Membatasi impor (contoh: tarif bea masuk yang tinggi, pelarangan impor, dan kuota impor).
- Memperluas daerah koloni atau jajahan guna mendapatkan logam mulai dan bahan mentah yang murah.
- Memperoleh monopoli perdagangan.
2. Teori keuangan /keuntungan mutlak
Teori ini dikemukakan oleh Adam Smith dalam bukunya “The Wealth of Nation” tahun 1776, mengatakan bahwa sumber kemakmuran tidaklah terletak pada banyaknya logam mulia yang dimiliki, tetapi terletak pada banyaknya barang-barangyang dimiliki pada kegiatan produksi dan mengembangkan hasil produksi melalui perdagangan.
- Teori keunggulan/keuntungan komparatif
Dikemukkan oleh David Ricardo dalam bukunya “ Principles of Political Economy and Taxation”. Teori ini dibedakan menjadi perdagangan dalam dan luar negeri.
Saya baca kembali materi pelajaran kelas 3 SMA tentang ekonomi. Betapa dulu kami dijejali dengan teori-teori yang memang dari kurikulum pendidikannya memang sudah seperti itu. Menghafalkan teori-teori tersebut tanpa harus dikritisi. Jadi, pemikiran saya mungki “terkontaminasi” dengan teori yang seperti itu. Wajar saja jika perdagangan bebas yang konon berasal dari Negara berpaham liberalisme bisa diterima dengan mudah. Konsumerismme ataupun materialisme ditemui dimana-mana. Karena pada materi pelajaran pun sudah dikenalkan bagaimana perdagangan bebas itu mempunyai banyak manfaat. Sebenarnya manfaat bagi siapa?? Kita sebagai bangsa Indonesia atau mereka yang menyatakan Negara maju?
Baca dengan seksama motif/tujuan perdagangan internasional adalah untuk mencari keuntungan. Bagaimana mungkin kita bisa untung? Justru kebalikannya, kita rugi besar, Negara menanggung hutang yang besar. Karena dari fungsi perdagangan yang ada kita hanya sebagai Negara sasaran produk-produk. Kita tidak memproduksi.
Bangsa kita memang sangat baik hati. Sadar ataupun tidak kita telah membantu bangsa lain untuk mempercepat pertumbuhan bangsa tersebut dengan membeli produk-produk mereka. Kita tidak perlu memproduksi atau berkreasi. Pemerintah pun meneglurakan kebijakan yang aneh-aneh, dengan mengurangi subsidi pada industri dalam negeri. Atau malah tenaga ahli kita bekerja pada perusahaan asing yang lebih bonafide dibandingkan dengan perusahaan dalam negeri. Dengan iming-iming gaji yang lebih tinggi (mata duitan banget ga siy??). Barang-barang impor pun membanjiri Negara kita.yang katanya kualitasnya lebih bagus dibandingkan produk dalam negeri. Mengapa produk kita berkualitas rendah? Karena tidak ada modal untuk meningkatkan kualitas (kalaupun ada modal pasti sudah habis untuk bayar utang yang sudah jatuh tempo kepada investor).
Pelarangan impor pun sepertinya tidak berpengaruh karena kita sedang mempersiapkan pasar bebas. Yang artinya, barang-barang impor tersebut akan dengan leluasa masuk ke Indonesia tanpa harus dipungut bea yang tinggi. So, untuk itu tidak ada pembatasan atau pelarangan impor.
Kita adalah daerah koloni yang menggiurkan bagi mereka. Bagiamana tidak?? Negara kita dipenuhi kekayaan alam tapi disana-sini yang mengelola adalah perusahaan asing. Mereka dapat bahan mentah yang murah dan kita menikmati hasil produksi itu alias jadi Negara pendistribusain barang-barang mereka. Mereka berdalih kerjasama perdagangan, tapi ternyata mengeruk hasil bahan mentah kita. Keuntungan mereka sangat besar, dengan bahan mentah kita dan gaya konsumerisme kita. Dan akhirnya sudah tidak bisa dihindari lagi. Mereka memonoploi perdagangan kita. Coba hitung saja dari ujung rambut sampai ujung kaki barang siapakah ini? Bahan boleh dalam negeri tetapi kita beli kepada luar negeri.
Kita telah banyak membantu Negara lain dengan meningkatkan pendapatan Negara lain, mendistribusikan barang/jasa mereka masuk ke dalam negar kita, menyebarluaskan teknologi mereka. Banyak manfaat yang dapat dari perdagangan internasional ini buat kita, tapi banyak kerugian yang kita peroleh. Dan ini tidak seimbang. Di saat Negara ini sedang carut marut, apakah mereka akan memabntu kita? Yah mereka akan membantu kita dengan perjanjian profit motive. Dengan kucuran bantuan alias mereka memberi hutang. Jika kita tidak bisa bayar, mengingat perjanjian di atas kertas maka pembayrannya pun bisa dengan harta alam yang dimiliki bangsa ini. Atau kemungkinan bisa menjual salah satu pulau yang banyak bahan mentahnya. Kita memang sasaran empuk, dan kita sadar hanya tidak bisa berbuat apa-apa.
Dengan adanya perdagangan internasioanl, yang miskin semakinmiskin dan yang kaya semakin kaya. Karena siapa yang bermodal besar akan berkuasa. Akankah bngsa kita miskin atau kaya? Itu tergantung pada kita yang memanfaatkan semuanya dan tidak hanya memnafaatkan saja, tetapi menjaga dan melestarikan.
Di sekian puluh ribu juta kepala punya pendapat beda tentang Negara ini. Tapi, akankha bisa bersatu untuk memperbaikinya tanpa perlu bedebat panjang??
Saya tidak ingin memperdebatkan tentang Israel-Palstina, atau Amerika,Inggirs dan bangsa-bangsa yang lain. Tapi saya ingin bicara tentang bangsa ini yang rela menjual ibu pertiwi kepada bangsa lain. Inti penyelesaian masalah bukan pada saling menuding, menyalahkan atau membuka aib pada orang atau bangsa lain tapi tindakan yang mengarah pada perbaikan.
Rakyat sekarang miskin karena dimiskinkan oleh kaum elit
Sebelum kemerdekaan, mereka dirampok oleh penjajah
Sekarang mereka dirampok oleh kaum elit kita sendiri
(Pramoedya Ananta Noer)